Lulus SMA, saya ingin melanjutkan kuliah. Targetnya kuliah di
kampus negeri. Persiapanpun dimatangkan. Setelah menimbang, diputuskan ikut bimbel di
Surabaya. Kebetulan ada kakak yang tinggal
di Surabaya. Beliau punya motor. Bisa irit. Tidak perlu naik angkot ke lokasi.
Kakak saya tinggal di dekat museum. Museum ini adalah monumen kesuksesan keluarga sampoerna. Dinamai 'Museum Sampoerna'. Menempati lahan bekas pabrik rokok Dji Sam Soe yang pertama kali dibangun tahun 1927. Disebelahnya ada café untuk kalangan berduit. Bernama Café Sampoerna. Menunya serba barat dan mahal. Jalan di depan museum juga bernama sama. Jalan Sampoerna.
Naik becak dari Jembatan Merah, si abang segera paham jika kita bilang turun ‘sampurna’. Perjalanan dari Jembatan Merah akan melewati ‘mantan’ penjara Kalisosok yang tak berpenghuni dan serem. Penjara tersebut sudah lama tidak dipakai lagi. Konon karena kapasitasnya tidak memadai. Terlalu kecil. Karena berusia ratusan tahun, Pemkot Surabaya memasukkan gedung ini sebagai Cagar Budaya yang dilindungi.
Saat sudah nyampe di jalan sampurna akan mendapatkan pemandangan yang menarik. Museum yang di kelilingi pagar berkawat, didalamnya banyak mobil mewah sedang diparkir. Di luar pagar, berjajar abang becak yang lusuh sedang menunggu penumpang. Setiap orang yang jalan kaki, disapanya dengan ramah sambil menawarkan jasa becaknya.
Jalan sampurna terbentang mulai museum hingga perkampungan penduduk. Panjangnya kira-kira satu kilometer. Jika sore, jalanan itu macet. Orang lalu lalang pulang dari kerja. Kebanyakan pekerja dari museum sampurna. Disisi kanan, mobil-mobil berjajar parkir sepanjang jalan. Kebanyakan pemiliknya adalah warga setempat yang tidak punya lahan parkir.
Rumah kakak saya ada di salah satu gang jalan sampurna tersebut. Di pintu gang ada portal. Di atasnya tertulis: “Pengendara motor harap turun”. Semua kendaraan kecuali pak pos memang harus turun. Lebar gang yang sempit jadi penyebabnya. Lebarnya cuma satu setengah meter.
Meski di gang sempit, tempat itu tak pernah sepi. Obrolan dan candaan dengan suara keras hampir setiap hari terdengar. Sudah menjadi rutinitas. Jadi tidak merasa terganggu. Jika tidak terbiasa pasti mengira sedang ada orang bertengkar. Sebagian menggunakan bahasa Madura. Sebagian lagi berbahasa suroboyoan tapi dengan logat Madura. Ya, kakak saya memang tinggal di lingkungan masyarakat Madura. Separuh lebih dari penghuni kawasan itu adalah orang-orang Madura.
Sejak subuh, akfitas mulai ramai. Suara orang tawar menawar barang, hiruk pikuk menghiasi depan rumah. Sibuk sekali. Setiap pagi gang tersebut memang jadi tempat berjualan. Jadi pasar kaget. Yang dijual apa saja. Barang yang masih bagus maupun yang sudah bekas. Mulai ujung sampai jalan keluar gang, dipenuhi orang. Sebagian besar pedagang itu adalah orang Madura.
Menarik, jika menyimak pergulatan orang madura. Mentalitas mereka ulet dan tahan banting. Pandai menciptakan peluang. Maka tak heran jika banyak orang Madura sukses diperantauan. Jalanan yang dulunya lengang disulapnya jadi pasar. Barang yang sudah tidak berguna, diperbaiki dan dijualnya. Tidak malu bekerja apapun. Jadi tukang parkir, tukang becak, makelar atau apapun. Tak peduli komentar orang. Yang penting bisa mandiri. Tidak mengemis dan meminta-minta.
Mentalitas itulah yang membawa kesuksesan orang-orang madura di semua level sosial. Sebut saja di level nasional, Mahfudz MD.
Kakak saya tinggal di dekat museum. Museum ini adalah monumen kesuksesan keluarga sampoerna. Dinamai 'Museum Sampoerna'. Menempati lahan bekas pabrik rokok Dji Sam Soe yang pertama kali dibangun tahun 1927. Disebelahnya ada café untuk kalangan berduit. Bernama Café Sampoerna. Menunya serba barat dan mahal. Jalan di depan museum juga bernama sama. Jalan Sampoerna.
Naik becak dari Jembatan Merah, si abang segera paham jika kita bilang turun ‘sampurna’. Perjalanan dari Jembatan Merah akan melewati ‘mantan’ penjara Kalisosok yang tak berpenghuni dan serem. Penjara tersebut sudah lama tidak dipakai lagi. Konon karena kapasitasnya tidak memadai. Terlalu kecil. Karena berusia ratusan tahun, Pemkot Surabaya memasukkan gedung ini sebagai Cagar Budaya yang dilindungi.
Saat sudah nyampe di jalan sampurna akan mendapatkan pemandangan yang menarik. Museum yang di kelilingi pagar berkawat, didalamnya banyak mobil mewah sedang diparkir. Di luar pagar, berjajar abang becak yang lusuh sedang menunggu penumpang. Setiap orang yang jalan kaki, disapanya dengan ramah sambil menawarkan jasa becaknya.
Jalan sampurna terbentang mulai museum hingga perkampungan penduduk. Panjangnya kira-kira satu kilometer. Jika sore, jalanan itu macet. Orang lalu lalang pulang dari kerja. Kebanyakan pekerja dari museum sampurna. Disisi kanan, mobil-mobil berjajar parkir sepanjang jalan. Kebanyakan pemiliknya adalah warga setempat yang tidak punya lahan parkir.
Rumah kakak saya ada di salah satu gang jalan sampurna tersebut. Di pintu gang ada portal. Di atasnya tertulis: “Pengendara motor harap turun”. Semua kendaraan kecuali pak pos memang harus turun. Lebar gang yang sempit jadi penyebabnya. Lebarnya cuma satu setengah meter.
Meski di gang sempit, tempat itu tak pernah sepi. Obrolan dan candaan dengan suara keras hampir setiap hari terdengar. Sudah menjadi rutinitas. Jadi tidak merasa terganggu. Jika tidak terbiasa pasti mengira sedang ada orang bertengkar. Sebagian menggunakan bahasa Madura. Sebagian lagi berbahasa suroboyoan tapi dengan logat Madura. Ya, kakak saya memang tinggal di lingkungan masyarakat Madura. Separuh lebih dari penghuni kawasan itu adalah orang-orang Madura.
Sejak subuh, akfitas mulai ramai. Suara orang tawar menawar barang, hiruk pikuk menghiasi depan rumah. Sibuk sekali. Setiap pagi gang tersebut memang jadi tempat berjualan. Jadi pasar kaget. Yang dijual apa saja. Barang yang masih bagus maupun yang sudah bekas. Mulai ujung sampai jalan keluar gang, dipenuhi orang. Sebagian besar pedagang itu adalah orang Madura.
Menarik, jika menyimak pergulatan orang madura. Mentalitas mereka ulet dan tahan banting. Pandai menciptakan peluang. Maka tak heran jika banyak orang Madura sukses diperantauan. Jalanan yang dulunya lengang disulapnya jadi pasar. Barang yang sudah tidak berguna, diperbaiki dan dijualnya. Tidak malu bekerja apapun. Jadi tukang parkir, tukang becak, makelar atau apapun. Tak peduli komentar orang. Yang penting bisa mandiri. Tidak mengemis dan meminta-minta.
Mentalitas itulah yang membawa kesuksesan orang-orang madura di semua level sosial. Sebut saja di level nasional, Mahfudz MD.
Memang, banyak catatan dan kritik
untuk mereka. Tapi semangat pantang menyerah mereka tiada duanya. Layak
diacungi jempol.
S a l u t .
Info Keharmonisan Rumah Tangga
S a l u t .
Info Keharmonisan Rumah Tangga
![]() |
Menurut Boyke, disebut ejakulasi dini jika hubungan intim hanya mampu bertahan tidak lebih dari 3 menit. Atau jika dihitung dari gerakan, kurang dari 50 hentakan.
Kunci hubungan suami isteri yang saling memuaskan adalah mencintai pasangannya. Pada usia pernikahan yang sudah lama, harus ada komitmen bahwa hubungan suami isteri harus tetap bergairah dan orgasme bersama.
Diperlukan ikhtiar untuk mendapatkannya. Olah raga, menjaga pola makanan dan latihan-latihan seks. Seperti latihan pernafasan, kegel dan menjaga stamina keperkasaan. Baca tips mengatasi ejakulasi dini.
Hal penting lainya adalah menjaga komunikasi. Ciptakan komunikasi yang intim. Dekat. Komunikasi yang tidak berjarak. Sehingga masing-masing bisa menyampaikan masalah yang dihadapinya. Termasuk masalah ejakulasi dini.
Suami yang mengalami ejakulasi dini akan bersemangat mengatasinya jika isteri memahami dan mendukungnya. Langkah melakukan terapi akan cepat menunjukkan hasil. Termasuk jika harus menggunakan alat bantu atau obat-obatan tahan lama.
Serangkaian upaya bersama itu akan menambah rasa kasih sayang dan gairah keduanya. Pada gilirannya hubungan yang saling memuaskan akan didapatkan. Dan rumah tangga yang harmonis bukanlah impian lagi. Tapi sudah dalam genggaman.
Semoga bermanfaat.

Suka dengan tulisan ini. Mengulas dari sisi yang berbeda. www.harmonis.net
ReplyDeleteTerima kasih pak yoyok. terima juga atas linknya; www.harmonis.net
Delete